Thursday, July 22, 2010

TIPs UNTUK GURU YANG MALAS

1.Guru kurang memahami kerjaya guru

 
Kerjaya guru adalah profesion yang sangat mulia. Para guru hendaknya menyadari profesion yang mulia ini. Guru harus dapat memahami peranan dan fungsi guru di sekolah. Guru sekarang bukan hanya guru yang mampu memindahkan ilmunya dengan baik, tetapi juga mampu ditiru untuk memberikan contoh tauladan yang tidak hanya terbatas ucapan tapi juga tindakan.
Kerjaya guru adalah profesion  yang bukan hanya mulia dimata manusia, tetapi juga di mata Illahi. Karena itu guru harus dapat mengajar dan mendidik dengan hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kerja hariannya ( Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar).

2. Guru malas membaca buku dan malas menulis

Masih banyak guru yang malas membaca. Padahal dari membaca itulah membuka wawasan yang luas dari para guru. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali masa untuk membaca. Bukan hanya di sekolah, di rumah pun guru malas membaca. Guru harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Ingatlah dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia.

Pengalaman mengatakan siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya dengan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca, otaknya seperti ibarat mesin pencari google di internet. Bila ada pelajar yang bertanya, minda otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para pelajar nya dengan cepat dan benar.

Sudah terbiasa  bila guru malas membaca, maka akan malas pula untuk menulis. Menulis dan membaca tidak dapat dipisahkan. Guru yang terbiasa membaca, maka ia akan terbiasa menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri.

Menulis itu ibarat pisau yang harus selalu diasah. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, seperti sebilah pisau. Tulisannya sangat menyentuh hati, dan bermakna.

3. Guru kurang sensitif terhadap dengan waktu dan terjebak dalam rutin kerja harian

Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia boleh  raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Terjaga dari sesuatu yang kurang bermanfaat.


Setiap saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualiti seorang guru terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik. Guru yang berjaya dalam hidupnya adalah yang pandai urus waktu dengan baik. Waktunya benar-benar sangat berharga dan berkualiti. Setiap waktunya diurus dengan baik.

Guru harus pandai mengatur rutin harian kerjayanya. Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinnya yang tidak menjadi dia menjadi seorang guru dapat dicontohi oleh pelajarnya. Guru harus pandai dalam membahagikan waktu kerjanya. Buatlah jadual yang berencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutin kerja, misalnya : membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam buku guru, di dalam blog internet, dan lain-lain.

Rutin kerja harian tanpa disadar membuat guru terjumus menjadi guru yang kurang berkualiti. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik pelajarnya dengan hati yang bersungguh-sungguh. Waktunya di sekolah hanya terbatas sebagai tugas rutin mengajar yang tidak mempunya nilai apa-apa. Guru hanya melakukan pemindahan ilmu. Dia mengganggap pekerjaan itu adalah kerjayanya sahaja, karena itu dia berusaha kuat untuk diperlihat baik oleh pentadbir sekolah. Tak ada upaya untuk keluar dari rutin kerjanya yang sudah membosankan. Bahkan sampai saatnya ia pencen.

4.Guru kurang kreatif dan inovatif serta malas menganalisa
Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencuba sesuatu yang baru dalam proses pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar copy and paste dari tahun ketahun, itu saja. Guru menjadi tidak kreatif.


Guru tidak akan pernah menemukan proses kreativiti bila cara-cara yang digunakan dalam mengajar adalah cara-cara lama. Sekarang ini, susah sekali untuk mencari guru yang kreatif dan inovatif. Kalau ada pun jumlahnya peratus sangat sedikit. Guru sekarang lebih mengutamakan penghasilan daripada proses pembelajaran yang kreatif.


Setiap tahun kerajaan mengadakan pertandingan karya tulisan ilmiah dalam berbagai bentuk untuk para guru, dengan harapan guru mahu meneliti dan mentalaah. Namun, hanya sedikit guru yang memanafaatkan peluang tersebut dengan baik. Padahal kesempatan ini sangat baik untuk guru berlatih menulis,  meneliti serta menganalisa. Dari meneliti dan penganalisaan membuatkan guru mengetahui kualiti pembelajarannya.


Penelitian atau penganalisaan  diselenggarakan untuk memperbaiki hal-hal yang telah dilakukan agar menjadi kita lebih baik atau menciptakan sesuatu yang baru. Sebenarnya meneliti atau penganaliasaan itu tidak payah. Kesulitan dan kemalasan  itu sebenarnya datangnhya dari guru itu sendiri. Guru menganggap meneliti dan menganalisa itu adalah bukan tugasnya tetapi guru hanya mengajar sahaja.

Semuga tips ini dapat di kongsi bersama.

No comments: